Rabu, 05 Juni 2013

Honda CBR250R, Tema Racing Harian

Melihat Honda CBR250 tahun 2011 milik Bondan Mulyawan, tampilan motor racing akan langsung melekat di benak kita. “Konsep awalnya memang bikin motor yang kental dengan nuansa racing," buka Bondan sang pemilik.

"Makanya hal pertama yang dilakukan adalah membuat body kit baru untuk menunjang konsep racing itu,” sambungnya sambil menunjuk Sportisi Motorsport di Rawamangun Jakarta Timur sebagai sang modifikator.

Fairing baru tanpa lampu sengaja dibuat. Memang jadi kental pacuan balap sirkuit tapi untuk harian, lampu utama tetap tersedia. Lampu depan custom model proyektor sengaja dipasang di bawah fairing agar tersembunyi.

“Untuk spion juga custom diambil dari spion mobil dan diletakan di tengah, lagi-lagi biar nuansa racing nya tidak hilang,” ucap Bondan, yang tergabung di Honda CBR Riders ini sambil meyakinkan kalau karakter kaca cembung pada spionnya masih bisa digunakan untuk melihat sisi belakang baik kanan maupun kiri dengan baik.

Di area kaki-kaki tidak banyak mengalami perombakan. Karena bawaan standar CBR 250R dinilai Bondan sudah cukup mewakili konsep racing yang diinginkannya. “Kaki-kaki tidak banyak berubah, pelek tidak diganti, paling ganti ban aja. Sekarang pakai Bridgestone Battlax S20 ukuran 120/60-17 untuk ban depan, dan 150/60-17 untuk ban belakang.

Tampilan sudah racing, performa juga harus ditingkatkan. Untuk mendongkrak performa knalpot pakai merek PDK dengan leher buatan Sportisi Motorsport. Mengimbangi knlapot racing, piggyback DFC dari Dynojet sengaja dipasang.

Waktu pengerjaan juga tidak memakan waktu lama, hanya sekitar dua minggu. Hasilnya? “Puas, sesuai dengan keinginan saya yang pengen punya motor racing tapi tetap bisa dipakai sehari-hari kuliah atau sekedar nongkrong aja,” tutup Bondan.

Eits, satu yang kurang lampu seinnya belom dipasang tuh bro! (motorplus-online.com) 

Data Modifikasi
Setang: Bikers
Preload sok depan: Bikers
Footstep: Bikers
Windshield: Ermax
Knalpot: PDK
Per kopling: Barnett
Voltmeter: Koso
Stabilizer: XCS
Piggyback: DFC
Stand hook: KTC
Handguard: KTC
Grip: Harris
Lampu depan: Custom LED
Klakson: Hella
Lampu belakang: Hyper Sonic
Tank protector: Deviro
Cover air filter: Power Cover by Sportisi Motorsport
Cutting stiker: Gondrong Stiker
Race body set: Sportisi Motorsport

Honda S90, Unique City Racer

Julukan ini diberikan, karena konsep modifikasi yang memadukan antara city cub dengan café racer. Hasilnya, unik kan?

“Untuk fork depan mengaplikasi milik Honda C70,” beber Bagoes Listiantio yang pemilik Honda S90 lansiran 1966 ini. Buat adopsi fork milik C70 ini, bukan perkara sulit. Karena menurut Bagoes, prosesnya sama seperti variasi bolt on yang tinggal pasang. Sebab, as komstir tak perlu diubah.
Tapi, modelnya enggak pakai segitiga atas. Jadi, cuma andalkan segitiga bawah aja. “Buat memperkuat pegangan, tetap pakai dudukan komstir atas bawaan C 70. Termasuk murnya juga,” sebut owner rumah modif BAR2ND yang artinya barang-baranng bekas alias second.


Biar tampilan makin klasik, lampu depan dibuat menyatu di fork. Untuk ini, Bagoes mengandalkan dop tengah dari mobil jip sebagai dudukan headlamp.
Sedangkan lampu, diambil dari foglamp variasi. Pemasangannya, dudukan lampu dilas di pelat besi tebal 1 mm. Setelah itu, dipasang ke fork dengan sistem baut.

Mengakali setang yang dibuat model membentang lurus, Bagoes pun mengaplikasi milik Yamaha RX-King. Tapi, yang diambil cuma bagian lurusnya saja.

“Pemasangannya pakai sistem bushing,” timpalnya dari Perumahan Taman Mangu Indah, Jl. Bougenvile, Blok B2/19, Pondok Aren, Tangerang.

Maksudnya model bushing, sebelum setang dipasang, dibuat dulu bushing dari pipa alumunium diameter 0,5 inci. Bushing ini, dipasang di fork.

Setelah itu, baru masukan setang dan dikencangkan pakai baut L8 dari ujung luar setang. Detail pemasangan, rapi tuh!

Terakhir, demi memperkuat kesan café racer, bodi belakang ala buntut tawon dibuat dari besi pelat tebal 1 mm. Harmonisasi pun terjaga sempurna!

Mantap Teng!. (motorplus-online.com) 



DATA MODIFIKASI
Ban depan: IRC 2,50 x 17
Ban belakang : Mizzle 3,00 x 17
Pelek : V-Rossi

Modif Yamaha Mio Fino, Mau Makin Klasik

Untuk sebuah motor klasik, tampang standar Yamaha Mio Fino masih terlalu modern. Itu menurut Muhammad Nazar. Makanya, warga mampang prapatan Jakarta Selatan inipun mengubahnya menjadi makin lebih klasik dan elegan. Caranya cukup bermain warna dan part bolt on.

Tampilan klasik disumbang dengan cat bunglon bermerek Rock Paint. Cat yang bisa berubah warna ini dianggap mewakili tren era 80-an.  Selajutnya, tinggal menambah part bolt on seperti keranjang yang ditemplokkan di bawah lampu depan.

“Keranjang ini langsung dibeli dari Thailand. Karena belum dijual di Indonesia,” tegas Nazar.

Nuansa elegan dimunculkan dengan warna krom dan kuning emas. Warna ini diaplikasi pada hampir semua part selain cover body. “Motor elegan itu syaratnya tak banyak warna dominan. Cukup dua,” tambahnya.

Jurus terakhir dikeluarkan dengan membungkus jok pakai produk MBtech. Pemilihan tipenya pun pas. Memakai MBTech tipe Picasso yang suguhkan kontur abstrak layaknya jok mobil mewah.(motorplus-online.com)

Test Ride Kawasaki Versys 650, Sodorkan Torsi dan Kenyamanan!

Kali ini giliran moge menengah, Kawasaki Versys 650 kami jajal. Motor gede ini memang memiliki desain khas motor Touring. Tampilan bodi depan mengaplikasikan fairing setengah lengkap dengan windshield menjulang. 

Pokoknya pas banget untuk turing, tapi apa jadinya kalau motor ini dipakai harian?Tentunya, meski punya motor bergaya turing, motor ini tidak cuma dipakai untuk jalan jauh saja. Buat jalan-jalan Minggu pagi atau sekedar iseng ke kantor naik moge? Siapa tahu ada yang mau mencoba he..he..hee.. Yuk langsung coba! Jalanan Ibu Kota di siang dan malam hari jadi incaran selama satu minggu penuh.

Desain dan Fitur
Desain bodi yang membalut rangka turbular mempunyai desain keren, fairing setengah di bagian depan terlihat nakal dengan windshield yang cukup tinggi. Gagah abis bro! Suspensi up side down jangkung dan sokbraker belakang dengan 7 setelah kekerasan menjadi salah satu fitur andalan.

Lampu depannya yang didesain bertumpuk tiga, dari lampu senja, lampu utama dan lampu jauh dirasa cukup terang. Bukan cuma terang, jangkauannya juga jauh. Asik buat jalan malam dalam kecepatan tinggi. Sedang pada panel indikator, sangat fungsional. Secara keseluruhan, panel indikator ini tergolong mudah dilihat meski dimensinya terbilang imut. Tapi sayangnya, tidak ada indikator konsumsi bahan bakar rata-rata. 

Selebihnya tidak ada fitur lain yang terlalu menonjol, paling ada di swing arm yang lebih kokoh ketimbang ER-6n atau Ninja 650 yang memiliki platform rangka dan mesin serupa. 

Handling
Motor ini memang super jangkung. Jujur saja untuk rider dengan tinggi badan 165 cm harus jinjit lumayan parah. Apalagi bobot motor ini sangat berat, mencapai 206 kg, jangan sekali-kali menahan motor dalam posisi terlalu miring, kalau tidak kuat bisa langsung ambruk bro.

Selain itu, agak repot juga ketika hendak menggeser atau memindahkan motor ini di parkiran yang sempit, beratnya lumayan bikin tangan pegal. Untung pegangan di begel belakang nyaman dan mantap digenggam. Tapi saat duduk dan mulai berkendara baru terasa nikmatnya!
Rider dengan tinggi badan 165 cm, jinjitnya lumayan bikin capek saat berhenti lama 

Posisi ridingnya memang nyaman, tidak membungkuk dan tegak. Posisi badan seperti ini membuat jalan jauh lebih santai. Joknya juga lebar dan empuk, membuat OTONET Tester ogah turun saat city riding. Maunya ngegas terus he..he..he..

Redaman suspensinya juga nyaman, jalan berlubang hampir tidak terasa dan tidak takut motor nyangkut, karena tinggi. Karena bobotnya 206 kg saat menikung rebah, untuk mengembalikan ke posisi awal terasa sedikit berat, butuh dorongan badan untuk mengembalikan ke posisi semula.

Dan surprise-nya, ketika bertemu kemacetan parah, motor ini masih bisa diajak belok patah. Bahkan beriringan dengan motor yang lebih kecil seperti Ninja 250 injeksi di tengah kemacetan masih bisa mengikuti. Yang penting pandai-pandai memprediksi lebarnya setang dan kuat sama panas mesin yang menjalar sampai ke paha.

Performa
Mesin yang digunakan pada Kawasaki Versys adalah mesin 649 cc DOHC Liquid-cooled, 4-stroke Parallel Twin yang mampu menghembuskan daya 60 tenaga kuda pada putaran 8.000 rpm dengan torsi puncak 61 Nm pada 6.800 rpm. 

Saat dibuka gasnya cepat sekali menyentuh angka 100 km/jam, Saat digeber di malam hari di jalan yang kosong, motor ini melesat cepat, perpindahan gigi agak kasar khususnya saat shift down, namun tidak ada masalah justru menambah kesan gahar. 

Memang akselerasinya terasa smooth bila dibandingkan moge 600 cc dengan jumlah silinder lebih banyak, tapi torsinya di putaran bawah sangat terasa. Buat harian, bermain di putaran mesin 2000 sampai 5000 rpm saja sudah cukup untuk moge yang dijual Rp 118 juta dan Rp 128 juta untuk versi ABS ini. (motorplus-online.com) 

Data performa
0-60 km/jam: 2,4 detik
0-80 km/jam: 4,2 detik
0-100 km/jam: 5,5 detik
0-100 meter: 5,9 detik
0-201 meter: 8,9 detik
0-402 meter: 13,9 detik
Top speed: > 200 km/jam

Sabtu, 01 Juni 2013

Iron Man, Begitu Menginspirasi Modifikasi Motor Dunia

Kalau sobat pecinta Iron Man, pasti kerap melihat pacuan chooper milik Tony Stark selaku tokoh pahlawan berbaju logam itu. Ya, sejak episode awal hingga memasuki yang ke-3 sekarang ini pun, tetap muncul. Meskipun, pacuan itu hanya menjadi bagian dari sederet ‘pajangan’ di garasinya.

Film yang telah beredar di sini sejak 3 Mei 2013 lalu, menginspirasi beberapa rumah modifikasi juga juara dunia MotoGP, Lorge Lorenzo. Mereka mengubah motif motor dan helm dengan desain superhero asal Amerika Serikat ini.
Salah satunya, Zero Engineering yang berdiri sejak 1992 di Okazaki, Jepang dan pindah ke Las Vegas, Amerika Serikat ini dipercaya sebagai rumah modif yang membuat pacuan bagi Stark.

Pacuan Iron Man ini serupa dengan Type 6 yang dirancangnya. Basis engine dari S&S dengan tipe head silinder Shovelhead. Frame, usung model rigid dengan tipe rangka gooseneck. Sedang untuk suspensi depan, aplikasi model springer.

Pakaian penunjang seperti jacket, sarung tangan sepatu, helm juga didesain untuk memenuhi selera fans. Dalam situs fashionably Geek dijual beberapa apparel pengendara. Total untuk apparel lengkap itu dijual 1.300 US dolar. Perlengkapan ini bisa dibeli terpisah.  (motorplus-online.com) 

Minerva Sachs Megelli 250RV 2010 : Longgarin Dikit Biar Lebih Ngacir



Tahun
 ini pasar motorpsort berkapasitas 250 cc makin menggeliat. Hadirnya Kawasaki Ninja 250R yang diikuti Minerva Sachs Megelli 250 dan Honda CBR250 mengindikasikan hal itu. Ketiganya menawarkan performa yang menggiurkan. Karena memang soul ketiganya mengisyaratkan pacuan kencang.

Ninja 250R sudah membuktikan keperkasaannya lewat ajang balap di sirkuit Sentul, Jabar. Banyak rider ambil bagian dalam event yang sudah digelar selama 2 tahun tersebut. Penjualan motor bermesin 4 langkah 2 silinder segaris pun langsung laris manis.

Dan sepertinya PT Minerva Motor Indonesia (MMI) tak mau ketinggalan turut menggelar OMR buat produk 250 cc 4-Tak andalannya itu dalam seri pembuka IndoPrix 2011 di sirkuit Sentul, Minggu (27/2) kemarin. Temanya Minerva Sachs Racing Championship 2011 seri ke-1.

Kata Apong Afriansyah, GM Sales Marketing MMI, event tersebut sebagai ajang untuk membuktikan ketangguhan Megelli 250. Tahun ini digelar sebanyak 3 seri. Kontan saja event tersebut enggan disia-siakan oleh pemilik motor yang sangat kental aura sportnya ini.

Buktinya langsung dibanjiri 18 starter. Tak hanya dari kalangan privater atau konsumen Megelli 250 saja lo. Tim-tim road race papan atas juga ambil bagian. Salah satunya AHRS di Depok, Jabar lewat tim satelitnya Farhan Hendro Motorpsort (FHM).

Memang untuk seri perdana ini, regulasinya masih standaran. Jadi, tidak ada oprekan yang spesial pada motor. "Semua standar. Cuma boleh modif silencer saja dan setting karburator. Itu pun silencer standar hanya dibobok saringannya," bilang Cepi, mekanik AHRS yang ditugaskan menangani pacuan Megelli 250 tim FHM.

Meski begitu, mampu membuat Megelli 250 mencapai best time 2 menit kecil. Seperti yang dicapai pada Megelli 250 pacuan Bram Prasettya, racer FHM bernomor start 85 ini. "Kalau regulasinya agak diperlonggar dikit, motor ini bisa lebih ngacir lagi," yakinnya.

Sebab sebelumnya Cepi coba meriset knalpot dengan arah pembuangan ke samping. Power motor terasa lebih keluar. "Sayang, regulasinya mengharuskan konstruksi saluran gas buang harus seperti standar bawaan motor (posisi muffler di bawah jok). Coba kalau bebas," tukas Cepi.

Sementara soal kaki-kaki dan suspensi, peranti bawaan Megelli dianggap sudah cukup mumpuni. Cuma perlu mengganti ban dengan spek balap. Cepi menukar kedua karet bundar pacuan Bram pakai produk Pirelli tipe Diablo Supercorsa ukuran 120/70-17 M/C 58W pada bagian depan maupun belakang.. (otosport.co.id)

Sabtu, 25 Mei 2013

Kenali Cara Pakai Choke Di Karburator


Model kupu-kupu masih boleh buka grip gas
Fungsi cuk (choke) untuk memperkaya campuran bensin. Dipakai ketika pagi hari supaya mesin mudah dihidupkan. Dalam perkembangannya, cuk diklasifikasikan jadi dua. Yaitu cuk model butterfly (kupu-kupu) dan tipe piston.

Masalahnya, kebanyakan pemilik motor kurang paham sistem cuk yang dianut kendaraannya. Sehingga penggunaan cuk jadi mubazir. “Misal, saat menggunakan cuk sembari membuka gas waktu mau hidupkan mesin. Itu cara yang salah,” jelas Susanto dari Institut Mekanik Motor Indonesia (IMMI) Jogjakarta.

Seperti cuk butterfly yang dianut Honda Astrea Supra atau Tiger 2000, Kawasaki Blitz, Kaze dan Yamaha Jupiter MX lama. Cirinya di moncong karbu terdapat katup manual yang bisa menutup secara penuh lubang venturi. Sehingga debit udara lebih dikit dibanding jumlah bahan bakar dari pilot-jet

“Pada model butterfly, ketika cuk diaktifkan, posisi gas dibuka gak masalah. Karena venturi tertutup penuh walau skep terbuka, debitnya makin banyak lantaran bahan bakar akan keluar melalui lubang nosel,” imbuh pria praktik di Jl. Prawirotaman III/G, Yogyakarta itu.

Piston cuk otomatis didukung part kelistrikan(kiri). Cuk piston pantang buka gas biar aliran udara fokus di lubang cuk(kanan).
Berbeda jika cuk tipe piston yang dianut motor macam Yamaha, Suzuki atau di Honda New Mega Pro. Punya jalur sendiri untuk menambah debit bensin. Yaitu dari lubang pelampung ke venturi (starting jet) lewat lubang udara (starter air hole). 

“Cuk tipe ini pantang buka gas. Sebab ketika cuk aktif, skep wajib menutup penuh lubang venturi. Tapi, kalau gas dibuka, udara akan mengalir melalui lubang venturi dan tidak melalui jalur cuk. Akibatnya tak ada suplai tambahan bahan bakar dari starting jet,” wanti Ahmad Syahid, TSO (Technical Service Officer) Astra Honda Bali. Paham kan?

Piston Pun Dibedakan

Cuk tipe piston diklasifikasikan jadi dua, yaitu sistem otomatis dan manual. Sistem manual seperti umumnya dipakai di Yamaha Jupiter-Z, Shogun 125 dan Smash.

Sedang Honda Vario, BeAT dan beberapa skubek Kymco adalah tipe otomatis dan didukung kelistrikan. “Pada tungangan ini, cuk akan aktif ketika suhu mesin dingin. Cara kerjanya menggunakan cairan pemanas yang ditempatkan di atas badan cuk,” lanjut Ahmad Syahid.(motorplus-online.com)

Mau Cari di Sini, Silahkan!